Sumur Mengering yang telah digunakan lebih dari dua puluh tahun dengan kedalaman lebih dari dua belas meter itu kini hampir kering. Dahulu, airnya melimpah hingga kami tak pernah membayangkan sumber ini akan mengering.
Kini, air hanya mengalir sebentar sebelum akhirnya berhenti, padahal selama bertahun-tahun sumur tersebut mencukupi kebutuhan empat keluarga. Perubahan ini membuat kami mulai khawatir terhadap ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Awalnya, persoalan ini dianggap sebagai masalah rumah tangga biasa. Namun, ketika diketahui bahwa sumur sebuah musala yang berjarak sekitar tiga bangunan dari rumah mengalami keadaan serupa, kekhawatiran mulai meluas.
Sumur musala itu sudah ada jauh sebelum bangunan di sekitarnya berdiri dan dahulu digunakan untuk mengairi sawah. Kini, sumber air yang pernah menopang kebutuhan jamaah tersebut menghadapi persoalan serupa, meski penyebabnya belum diketahui secara pasti.
BMKG Stasiun Klimatologi NTB memprakirakan awal musim hujan 2026–2027 mundur di seluruh 27 zona musim di NTB akibat pengaruh El Nio yang sangat kuat. Untuk Kota Mataram dan Lombok Barat, hujan diperkirakan mulai pada akhir November 2026.
Kondisi iklim tersebut dapat memperparah kekurangan air, tetapi belum cukup untuk memastikan penyebab menurunnya debit sumur di lingkungan kami. Faktor setempat tetap perlu diperiksa sebelum kesimpulan ditarik secara terburu-buru.
Di sekitar permukiman, pohon besar ditebang dan lahan sawah beralih menjadi permukiman. Meski penyebab sumur mengering belum dapat dipastikan, perubahan tutupan lahan patut diperhatikan dalam perencanaan pembangunan.
Ketika lahan terbuka beralih menjadi bangunan dan permukaan kedap air, sebagian air hujan lebih cepat mengalir ke saluran drainase. Kondisi ini dapat mengurangi kesempatan air meresap ke dalam tanah dan mengisi kembali cadangan air tanah.
Sebagai pendamping desa, saya melihat persoalan ini bukan hanya dari sisi air yang hilang, tetapi juga dari cara pembangunan direncanakan. Siklus alam semestinya menjadi pertimbangan sejak awal kegiatan pembangunan.
Pergantian musim bukan sekadar penanda waktu pelaksanaan kegiatan. Siklus tersebut membantu masyarakat dan perencana membaca risiko, memperkirakan kebutuhan, serta menyiapkan antisipasi agar pembangunan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Karena itu, pembangunan fisik tidak semestinya dinilai hanya dari bangunan yang selesai atau anggaran yang dipertanggungjawabkan. Sejak perencanaan, warga perlu diajak mengenali dampak terhadap sumber air, daerah resapan, dan lahan produktif.
Mitigasi dampak lingkungan dan sosial dapat dilakukan melalui pemetaan risiko bersama warga, pembahasan dalam musyawarah desa, serta pemantauan selama pelaksanaan. Evaluasi setelah pembangunan juga membantu mengenali perubahan yang sebelumnya tidak diperkirakan.
Pendekatan tersebut tidak menjamin semua dampak dapat dicegah. Namun, perencanaan partisipatif memberi ruang untuk mengurangi risiko dan memperbaiki keputusan ketika tanda-tanda perubahan lingkungan mulai terlihat di sekitar lokasi pembangunan.
Persoalan air tidak berhenti pada sumur gali. Di lingkungan rumah, air PDAM juga tidak mengalir pada siang hari. Menurut penuturan tetangga, aliran biasanya kembali sekitar pukul sembilan malam.