Siapa sangka, sebuah keputusan impulsif di tengah keriuhan bazar Cabai Rawit kampus bisa berubah menjadi sebuah ikatan emosional yang unik? Itulah yang terjadi pada saya dan Cengek. Cengek bukanlah nama kucing atau anjing peliharaan, melainkan nama kesayangan yang saya berikan untuk sebatang tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens).
Kisah kami bermula tepat satu tahun yang lalu. Saat itu, ada sebuah event bazar yang cukup meriah diadakan di depan Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Di antara deretan stand kuliner dan kerajinan, mata saya tertuju pada stand Agromart. Mereka memajang aneka bibit tanaman hias dan produktif yang tampak segar.
Entah mengapa, saya merasa harus membawa pulang salah satu bibit cabai rawit itu. Harganya sangat terjangkau, dan ada kepuasan tersendprofile tersendiri membayangkan bisa memetik cabai sendiri di kos atau rumah. Sore itu, dengan hati riang, saya menenteng bibit Cengek yang masih sangat kecil dan rapuh dalam polybag hitam, dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam sederhana.
Sesampainya di tempat tinggal, langkah pertama adalah memindahkannya ke media tanam yang lebih layak. Berhubung lahan terbatas, saya memutuskan untuk menanamnya di dalam pot. Proses pindah tanam ini krusial. Saya menyiapkannya dengan hati-hati: campuran tanah, kompos, dan sedikit sekam bakar. Cengek pun resmi menempati rumah barunya di pot plastik bening besar (bekas wadah sesuatu yang saya alihfungsikan), lengkap dengan ajir kayu untuk menopang batangnya yang masih lunglai.
Bulan-bulan pertama adalah masa yang penuh kecemasan. Cengek sempat layu karena cuaca yang terlalu panas, lalu hampir mati karena serangan kutu daun. Di sinilah saya belajar tentang kesabaran dan ketelatenan. Menyiramnya setiap pagi, memangkas daun yang sakit, dan memberikan pupuk secara berkala menjadi rutinitas baru.
Tanpa disadari, mengurus Cengek menjadi momen healing tersendiri di tengah penatnya tugas-tugas kuliah dan pekerjaan. Melihat daun barunya tumbuh, batangnya yang semakin mengeras, dan bunga-bunga putih kecil yang mulai bermunculan memberikan rasa pencapaian yang jujur.
Setahun berlalu, Cengek bukan lagi bibit rapuh di dalam polybag. Ia kini tumbuh tinggi menjulang di potnya, dengan percabangan yang rimbun dan daun-daun hijau gelap yang sehat. Batangnya sudah cukup kuat untuk menopang dirinya sendiri, meski ajir kayu masih setia mendampingi. Ia menjadi pemandangan utama di teras lantai atas, berdampingan dengan tanaman Aglaonema dan lainnya.
Dan sampailah kami pada momen yang paling dinantikan: panen. Bunga-bunga putih itu akhirnya berubah menjadi buah-buah cabai rawit yang hijau tua, lalu perlahan menguning dan memerah. Rasa bangga yang tak terkira saat saya memetik cabai rawit pertama hasil jerih payah sendiri. Meskipun jumlahnya mungkin tidak seberapa dibandingkan jika membeli di pasar, rasanya jauh lebih istimewa.
Kini, setelah satu tahun, Cengek telah bermutasi dari sekadar bibit tanaman di bazar kampus menjadi “teman hidup”. Ia mengajarkan saya bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana, dan bahwa setiap proses pertumbuhan baik tanaman maupun manusia membutuhkan waktu, perawatan, dan kasih sayang. Terima kasih, Agromart, atas momen yang berharga. Cengek, mari terus tumbuh bersama di teras kita!