Bernapas pun Jadi Beban: Kalimantan Tidak Boleh Berjuang Sendirian

Bernapas pun Jadi Beban: Kalimantan Tidak Boleh Berjuang Sendirian.Pagi ini kamu mungkin membuka jendela dan menarik napas tanpa berpikir apa-apa. Di Kalimantan, hal sesederhana itu sudah jadi beban. Menghirup berarti memasukkan asap ke paru-paru. Tidak menghirup? Mustahil. Mereka terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.

Ini bukan cerita lama yang sudah selesai. Di Barito Selatan, Kalimantan Tengah, luas karhutla sejak Januari sampai 16 Oktober sudah lebih dari 1.300 hektare. Pada Jumat malam 16 Oktober, api kembali dilaporkan di Desa Anjir, Pulang Pisau, saat warga seharusnya bisa beristirahat bersama keluarga. (kantamedia) (inilahkoran)

Yang paling dulu menanggung akibatnya adalah rakyat kecil. BPBD Kalimantan Tengah mencatat 66.679 kasus ISPA per Agustus. Sekitar 5,4 juta warga di tujuh provinsi terdampak langsung oleh asap. Di balik angka itu ada anak yang batuk tiap malam dan orang tua yang sesak. Di Kapuas, satu rumah warga ludes terbakar pada 27 Agustus karena rambatan api karhutla. (Karhutla di Kalteng Capai 148 Hektare, 66.679 Warga Terserang ISPA +2)

Satwa pun ikut jadi korban. Orangutan bernama Sempurna ditemukan lemas di kebun sawit Ketapang dan mati pada 30 Agustus. Asap diduga merusak paru-parunya. Kemenhut mencatat delapan satwa mati per 22 September dan belum ada pembaruan resmi. Padahal angka evakuasi satwa belum mencakup yang mati atau tidak ditemukan. (Orangutan Sempurna Tewas, Paru-paru Rusak Diduga Akibat Menghirup Asap Karhutla +3)

Pemerintah memang bergerak. Di Kalimantan Tengah saja, 10.700 personel gabungan diterjunkan. Tapi pertanyaannya tetap sama: kenapa api selalu kembali setiap kemarau? Penanganan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman. BNPB sendiri berharap hujan alami turun pertengahan Oktober sampai November. Berharap pada hujan bukan strategi pencegahan. (Karhutla di Kalteng Capai 148 Hektare, 66.679 Warga Terserang ISPA +2)

Kita yang masih bisa menghirup udara bersih punya utang empati. Kita tidak bisa memadamkan api sendirian, tapi kita bisa bersuara, membagikan informasi yang benar, mendukung relawan dan lembaga terpercaya, dan menuntut pencegahan yang serius, bukan sekadar pemadaman tiap tahun.

Karena bernapas seharusnya hak, bukan perjuangan.

Tinggalkan Balasan