Dalam beberapa hari terakhir, pemandangan langit di Asap Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), berubah menjadi tidak bersahabat karena kepungan kabut asap yang menyesakkan. Cakrawala biru nusa tenggara yang biasanya bening, kini berganti menjadi bentangan abu-abu pekat yang kusam.
Sebagai orang lokal, saya tahu betul bahwa bulan-bulan menjelang musim penghujan begini adalah waktunya para petani membakar rumput kering di lereng bukit. Tradisi tebas-bakar untuk persiapan lahan tanam ini memang siklus tahunan yang lumrah di sini.
Namun, pekatnya asap hitam kali ini membuat saya bertanya-tanya: apakah kepungan asap ini murni karena warga lokal membersihkan lahan, atau jangan-jangan ada kiriman dari kebakaran hutan hebat yang sedang melanda Kalimantan?
Pertanyaan itu ternyata terbukti saat saya melihat peta pantauan satelit BMKG per pertengahan Oktober 2026 ini. Kenyataannya memang cukup mengejutkan. Saat puluhan titik panas sedang merah-merahnya di sela-sela perbukitan Alor Timur dan Pantar, citra sebaran asap di langit ternyata juga menunjukkan sebaran polusi dari wilayah barat nusantara akibat maraknya insiden Karhutla Kalimantan.Angin Super El Nino yang kencang rupanya ikut menyeret asap panas tersebut membentang jauh menyelimuti wilayah Sukawati sampai ke NTT. Dari sabana kering di NTT hingga lahan gambut yang membara di Kalimantan, api seolah sedang mengepung ruang udara kita.
Asapnya bukan cuma membuat batuk masyarakat, tetapi jalaran partikelnya sudah sampai membayangi ruang udara negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan lokal, melainkan sudah jadi urusan polusi lintas batas.
Nyatanya, hantaman Super El Nino tidak berhenti pada urusan sesak napas. Cuaca ekstrem ini juga memicu gagal panen massal di berbagai daerah, yang perlahan tapi pasti mulai menggangu jalur distribusi pangan kita. Pada titik inilah, krisis ekologi di langit Alor berhubungan erat dengan krisis yang terjadi di dalam rumah tangga.
Maka, mari kita jujur pada diri sendiri. Apakah sesak yang kita rasakan ini murni karena partikel debu di udara? Ataukah juga karena pikiran dan isi dompet kita yang sebenarnya sedang ikut sekarat akibat kecemasan finansial?
Angka Makro versus Realitas
Hari-hari ini, kita seperti sedang menghadapi tekanan berat diam-diam karena kondisi alam yang buruk ikut merusak sektor pertanian hingga pasokan makanan kita berkurang drastis. Begitu pasokan pangan merosot, harga kebutuhan pokok di pasar otomatis melonjak. Sementara di sisi lain, gaji bulanan sebagian besar dari kita tidak pernah naik barang sedikit pun.
Anehnya, kalau kita membaca rilis berita ekonomi, potret di atas kertas rasanya kok indah betul. Katanya, pertumbuhan ekonomi nasional kita pada triwulan kedua tahun ini masih kokoh di angka 5,29 persen berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Belum lagi laporan Bank Indonesia yang mengeklaim bahwa tingkat kepercayaan ekonomi kita masih aman dan tinggi.
Raport ekonomi yang terlihat bagus itu sayangnya cuma terasa indah di atas kertas. Tapi, kenapa kenyataan di lapak pasar sepanjang bulan Oktober ini justru terasa lesu?
Jawabannya ada pada tekanan inflasi tahunan yang bergerak fluktuatif di kisaran 2 hingga 3 persen menurut laporan BPS, di mana lonjakan harga barang pokok tidak diimbangi oleh kenaikan upah yang setara. Persentase yang kelihatan kecil di layar televisi itu kenyataannya menjadi beban berat yang sangat menyulitkan keuangan masyarakat.
Pendapatan yang jalan di tempat dipaksa kejar-kejaran dengan harga barang yang merangkak naik. Alhasil, ramainya perbincangan lini masa media sosial kita belakangan ini merekam sebuah pemandangan unik yang terjadi di mana-mana.