Dari Bengkel ke Kebun Caisim di Tepi Irigasi: Kisah Bu Ningning

A. Dari Balik Bengkel, Bu Ningning Menanam Harapan

Setiap hari Bu Ningning menghabiskan waktunya menjaga bengkel. Meski begitu, kesibukan itu tidak membuat semangatnya untuk bertani padam. Bersama suaminya, ia mengubah sebidang tanah yang lama dibiarkan kosong di dekat saluran pengairan menjadi kebun sayur caisim yang kini terawat dan produktif. Awalnya, bercocok tanam hanyalah cara Bu Ningning mengisi waktu luang. Ia tidak ingin lahan di sekitar tempat usahanya terbuang sia-sia. Kini petak-petak kebunnya menampilkan tanaman dengan usia yang berbeda-beda, mulai dari bibit yang baru berumur dua hari hingga tanaman yang sudah empat hari setelah dipindahkan ke bedengan.

B. Hama Ulat dan Air Irigasi yang Meluap

Menanam sayur di tepi aliran air ternyata punya tantangan tersendiri. Menurut Bu Ningning, gangguan yang paling sering ia temui adalah ulat yang memakan daun caisim. Hama ini muncul begitu tanaman mulai berdaun dan merusak helai-helai hijau yang menjadi hasil utama kebunnya. Selain hama, letak kebun yang menempel pada jalur irigasi juga menjadi risiko. Ketika hujan deras turun dan debit air naik, air dari saluran dapat meluap, menggenangi bedengan, dan merendam sayuran yang sedang tumbuh. “Kalau sudah tumbuh daun biasanya ulat yang jadi masalah, lalu kalau hujan rawan terendam luapan air irigasi,” jelas Bu Ningning.

C. Berharap Anak Muda Membawa Cara Baru

Minat anak muda terhadap dunia pertanian kini kian menurun. Karena itu, Bu Ningning berharap generasi penerus mau terlibat dan ikut memajukan sektor ini lewat ide-ide serta cara kerja yang baru. Bu Ningning mengaku masih bertani dengan cara konvensional. Namun ia terbuka terhadap saran dan pembaruan teknik tanam. Ia berharap generasi muda yang berpendidikan mau membagikan ilmunya kepada petani di lapangan, sehingga masalah hama dapat diatasi dan hasil panen bisa meningkat lebih baik. Kisah Bu Ningning menunjukkan bahwa lahan kecil yang sempat terbengkalai pun bisa menjadi sumber hasil bila dirawat dengan tekun. Dukungan pengetahuan dari anak muda dapat membantu petani seperti beliau menghadapi hama dan cuaca, sekaligus menjaga agar pertanian tetap punya penerus.

Tinggalkan Balasan